Showing posts with label economics. Show all posts
Showing posts with label economics. Show all posts

Sosial Versus Ekonomi

Author: ICAL KARIM / Labels: ,

Ada semacam persaingan terselubung antara Ekonomi dan Sosial, dua kata yang bisa merujuk pada praksis keseharian manusia dan juga pada ranah keilmuwan modern dewasa ini. Secara ontologis, dua ranah keilmuwan ini lahir dari rahim tradisi positivistik Barat yang sama. Namun dalam perjalanannya, keduanya memilih untuk berpisah jalan dari segi epistemologis dan aksiologis. Ranah Keilmuwan Sosial lebih dinamis dengan munculnya wacana-wacana narasi kecil yang semakin mewarnai wilayah epistemologisnya. Sedangkan Ekonomi dengan angkuh tetap memegang teguh tradisi positivistik dalam wilayah epistemologisnya sehingga ekonomi dapat mengklaim sebagai empunya kuasa akan representasi realitas di masyarakat. Realitas yang oleh Ekonomi dapat dengan mudah direpresentasikan dalam bentuk tabulasi angka statistik-matematis yang rumit.

Ekonomi yang pada awalnya sebenarnya termasuk domain dari keilmuwan Sosial lambat laun bertendensi untuk keluar dari ranah tersebut dan membangun wilayahnya sendiri. Dengan adagium Economics for economics, Ekonomi melepaskan dirinya dari jeratan ranah keilmuwan Sosial. Akhirnya, Ekonomi tidak dapat lagi disebut sebagai ilmu yang berada dibawah kajian ilmu-ilmu Sosial.

Padahal, bila merujuk pada definisi klasik dari A. Marshal, Ekonomi adalah the study of humanity in the ordinary affairs of everyday life yang tentu mensyaratkan interaksi yang kompleks antar manusia. Namun Ekonomi modern cenderung mengabaikan faktor manusia dan sosial dalam ranah epistemologisnya dan kesemuanya bermuara pada dehumanisasi manusia dalam selubung postivistik Ilmu Ekonomi.

Kuasa Ekonomi benar-benar menghujam dunia yang kita diami sekarang. Siapa yang menguasai ekonomi (baik menguasai praksisnya maupun keilmuwannya) dapat dengan mudah menguasai dunia. Keilmuwan modern Ekonomi bergerak berdasarkan tiga prinsip utama. Prinsip pertama adalah bagaimana perkembangan pengetahuan berkontribusi bagi peningkatan teknologi. Kedua, bagaimana pengetahuan itu sendiri berkembang. Dan yang terakhir adalah koleksi data empiris dan penggunaan analisis ekonometri dalam melihat realita penarawan dan permintaan.
Ketiga prinsip diatas, meminjam konsep Jurgen Habermas, hanya akan menjadikan Ekonomi sebagai pengetahuan yang menjadi alat bagi kepentingan kelompok hegemonik tertentu dalam melestarikan kekuasaannya. Penguasaan ranah praksis tentu harus dilandasi oleh fundamen keilmuwan yang memihak pada para hegemon ini. Dan Ekonomi hingga sekarang berhasil menjadi instrumen kekuasaan para hegemon.

Adakah perlawanan diskursus terhadap narasi hegemonik ini? Tampaknya perlawanan diskursus itu ada. Globalisasi ternyata tidak hanya memberikan akses pasar yang tanpa batas bagi hegemon untuk meraup sebongkah harta dari tanah-tanah kaya “tak bertuan”. Globalisasi juga membangkitkan kesadaran kolektif dunia bahwa ketidakadilan global sedang mewabah di bumi yang sedang memasuki era pascamodernitas ini. Era dimana tidak hanya muncul ironi matinya pencarian akan kebenaran saja namun juga ironi kemanusiaan terbesar yang pernah dirasakan sejarah kemanusiaan manusia.

Melawan kuasa Ekonomi

Representasi perselisihan antara Sosial dan Ekonomi dalam ranah praksis dapat kita lihat
melalui fenomena penyelenggaraan World Social Forum (Forum Sosial Dunia, FSD) yang berbarengan dengan World Economic Forum (Forum Ekonomi Dunia, FED). Penggunaan signifier Sosial dan Ekonomi dalam kedua nama forum diatas tak dapat dipungkiri merupakan signified untuk dua hal yang saling beroposisi biner satu dengan yang lainnya; Sosial mengisyaratkan perlawanan, ketertindasan, pospositivistik, dan civil society; Ekonomi memaklumatkan hegemon, ketidakadilan, postivistik, serta korporasi dan elite penguasa negara.

Kehadiran diskursus yang dibawa keduanya pun bertendensi saling beroposisi. Sosial mengangkat diskursus ekofeminsime, feminisme, new social movement, dan poskolonialisme, sedangkan Ekonomi hanya berkutat pada diskursus neoliberalisme, globalisasi dan narasi-narasi besar lainnya yang sekarang terus menggerogoti narasi-narasi kecil kaum marjinal.
Pelaksanaan World Social Forum menjadi bukti bangkitnya kesadaran Global Civil Society dalam menghadapi realitas ketimpangan yang sedang berlangsung di dunia hingga hari ini. Walaupun kemunculan FSD secara organisatoris muncul pada tahun 2001 di Brazil, namun sebenarnya Forum seperti ini telah muncul pada tahun 1996 yang diberi nama Pertemuan Internasional demi Kemanusiaan dan Melawan Neoliberalisme. Forum yang diinisiasi oleh Zapatista ini merupakan gerakan global civil society yang dapat merangkul seluruh aktivis kemanusiaan dari seluruh dunia (termasuk Munir dari Indonesia).

Sementara itu, FED, yang berbasis di Jenewa, merupakan sebuah forum yang dibentuk oleh 2000 perusahaan besar dan selalu dihadiri oleh pejabat-pejabat Unholly Trinity (IMF, World Bank, WTO) serta pejabat-pejabat pemerintahan negara maju yang mendedikasikan diri mereka untuk pengembangan ekonomi global yang secara nyata hanya menjadi ilusi di mayoritas negara-negara berkembang.

FSD merupakan contoh kongkret munculnya gerakan emoh-negara (non-state) yang melihat bahwa peranan negara yang selama ini menjadi entitas legal dengan fungsi hierarkisnya dalam masyarakat semakin menipis bila dihadapkan dengan kuasa kepentingan ekonomi global. Identitas warga negara digantikan oleh anonimitas masyarakat konsumsi. Dalam era pascamodern ini, negara kesejahteraan yang melindungi segenap warga negaranya tak lebih dari sebatas entitas-entitas wilayah yang beralih fungsi menjadi pasar-pasar yang menggiurkan.
FSD membuktikan bahwa sistem internasional dan hubungan antar bangsa tidak lagi dimonopoli oleh Negara. Negara tidak lagi merepresentasikan individu dan masyarakat pada level internasioal. Fenomena FSD menggambarkan bagaimana retaknya kesatuan utuh negara yang selama ini secara given menjadi aktor dominan dalam hubungan antar bangsa.

Secara keseluruhan, Fenomena FSD merupakan cerminan dari perlawanan teks “sosial” menghadapi kuasa teks “ekonomi” yang menjadi sekedar instrumen kuasa bagi kaum hegemon untuk melanggengkan kepentingannya. FSD merupakan gejala mengglobalnya narasi-narasi kecil yang termarjinalkan untuk bersatu melawan derasnya sapuan narasi besar egoistik negara maju yang menghasilkan ketidakadilan global dalam sistem internasional sekarang.
Humanisasi Ilmu Ekonomi?

Seyogyanya, proyek besar yang niscaya harus dilakukan untuk mereduksi ironi ketimpangan masyarakat dunia sekarang adalah menempatkan kembali Ilmu Ekonomi pada ranah keilmuwan Sosial. Implikasinya, Ilmu Ekonomi tidak hanya menjadi instrumen bebas nilai dalam menganalisis gejala sosial. Ilmu Ekonomi sudah saatnya memutuskan keberpihakannya terhadap kaum marjinal.

Fenomena Forum Sosial Dunia dan oposisinya, Forum Ekonomi Dunia menjadi semacam simbolisasi dari pertarungan antara ranah Sosial yang lebih plural terhadap kemunculan warna-warni diskursus baru dengan ranah Ekonomi yang ortodoks, angkuh dan masih positivistik. Fenomena ini juga memperlihatkan bahwa Keilmuwan Sosial menjadi sarana bagi berkembangnya semangat emansipatoris untuk membebaskan manusia dari kungkungan kuasa tak terlihat, sedangkan keilmuwan Ekonomi masih menjadi alat pembenaran bagi realitas ketimpangan yang terjadi di dunia.

Harus dicatat, keilmuwan Sosial sempat menjadi keilmuwan yang bersifat positivistik namun sekarang telah menjadi wilayah keilmuwan yang mengakomodir epistemologi pospostivis. Oleh sebab itu tentu masih ada kemungkinan menjadikan keilmuwan Ekonomi untuk lepas dari kecenderungan positivistik yang bebas nilai ini menuju Ekonomi yang memihak kaum marjinal. Untuk itu wacana dekonstruksi kecenderungan postivistik dalam ilmu Ekonomi menjadi Conditio sine qua non bagi humanisasi ilmu Ekonomi itu sendiri.

Kapitalisme Global dan dehumanisasi Manusia

Author: ICAL KARIM / Labels: ,

Kapitalisme global yang sekarang menjadi sebuah kekuatan yang tak terjamah menjadi sesuatu hal yang menakutkan bagi Negara-negara dunia ketiga. Kapitalisme global sekarang bisa disebut sebagai Leviathan dunia. Secara singkat kapitalisme global (global capitalism) dapat didefinisikan sebagai bentuk kapitalisme yang berskala global, yang terutama didukung oleh berbagai mekanisme-mekanisme struktural dan lembaga-lembaga multinasional. Karakteristik dari kapitalisme global ialah cakupannya yang mengglobal dan prinsip utamanya yaitu persaingan.
Sedangkan dehumanisasi manusia merupakan sebuah bentuk ekploitasi manusia dalam bentuknya yang beragam yang mengekang manusia dari kebebasan hakiki yang dimilikinya. Dehumanisasi ini terkadang diikuti dengan ketundukan manusia yang didehumanisasi dengan yang mengekploitasi dirinya.Lantas hubungan apa yang ada antara kapitalisme dan dehumanisasi manusia? Tulisan ini akan sedikit mengekplore lebih jauh kapitalisme global untuk menjawab pertanyaan diatas.
Sejarah perkembangan Kapitalisme
Kapitalisme yang lahir dari rahim peradaban barat merupakan titik kulminasi dari berbagai macam peristiwa yang terjadi di tanah Eropa. Secara lebih spesifik, kemunculan kapitalisme berkaitan erat dengan munculnya gerakan protestanisme di Eropa. Gerakan yang menentang otoritas gereja katolik yang tiranik ini berhasil mempengaruhi sejarah peradaban barat selanjutnya.
Seperti yang dideskripsikan dengan baik oleh Max Weber dalam bukunya The Protestant Ethic and the Spirit of Capitalism, Weber melihat bahwa kemunculan kapitalisme terkait dengan doktirn predestinasi atau doktrin takdir yang terdapat dalam teologi protestan. Menurut Weber, ajaran protestan memiliki ajaran mengenai predestinasi ganda dimana kaum protestan tidak mengetahui apakah mereka termasuk kelompok yang termasuk orang terpilih atau termasuk kaum terkutuk. Bila dalam teologi katolik terdapat doktrin bahwa siapa saja yang menyandarkan diri pada gereja maka akan menemui keselamatan tetapi tidak demikian dalam ajaran protestan yang tidak mengakui otoritas gereja yang tiranik. Sehingga mereka harus mencari jalan menuju keselamatan mereka masing-masing. Ajaran ini mendorong terciptanya etika individualisme dalam ajaran protestant yang menjadi inti peradaban barat. Akhirnya umat protestant terpaksa mencari certitudo salutis yang didefinisikan oleh Weber sebagai indikasi bahwa mereka termasuk orang-orang yang terpilih. Oleh karena itu kemakmuran dan kekayaan yang didapatkan di dunia menjadi semacam tanda dari Tuhan bahwa mereka yang berhasil di dunia merupakan orang-orang yang terpilih begitu juga sebaliknya.
Negara-negara Eropa Barat mendominasi Eropa dengan semangat kapitalisme ini. Negara-negara ini terus melakukan akumulasi modal. Keuntungan yang didapatkan lalu menjadi modal bagi usaha baru dan terus berakumulasi. Pada akhirnya akumulasi modal di daratan eropa sudah mencapai tingkat tertingginya, untuk itu para kapitalis harus mencari daerah pemasaran baru dan daerah penghasil bahan baku. Untuk itu instrument proliferasi kapitalisme yang paling manjur adalah kolonialisme.
Hingga akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20 munculnya nasionalisme pada bangsa-bangsa terjajah membuat instrument kolonialisme mulai tidak efektif, terlebih akhir PD 2 menghasilkan declaration of Human Right yang secara ekplisit menentang penjajahan. Instrument baru bagi proliferasi kapitalisme ke seluruh dunia adalah melalui berbagai macam institusi supranasional seperti IMF dan Bank Dunia yang dibentuk di pertemuan Bretton Woods.
Hingga sekarang proliferasi kapitalisme terus berlangsung dengan nama baru seperti utang luar negeri dan investasi asing. Melalui instrumen narasi besar kapitalisme yang bernama globalisasi, maka dunia telah berada pada kekuasan jejaring kapitalisme global.
Nilai guna ke ekploitasi hasrat dalam sistem kapitalismeDasar kapitalisme sekarang tidak lagi berbasiskan persediaan yang ada tetapi berbasiskan permintaan. Oleh karena itu kapitalisme hidup dari proses konsumsi pada sebuah masyarakat. Dan proses konsumsi yang dilakukan masyarakat yang dikonstruksi oleh kapitalisme tidak lagi menggunakan logika fungsi tetapi menggunakan logika hasrat. Kondisi dimana proses konsumsi yang menggunakan logika hasrat ini bisa disebut sebagai masyarakat konsumerisme.
Masyarakat seperti ini sengaja dikonstruksi oleh kapitalisme global. Masyarakat konsumer ini terkadang berpikir bahwa mereka bebas mengkonsumsi apa saja yang mereka inginkan. Tetapi masyarakat ini lupa bahwa segala hal yang mereka konsumsi merupakan konstruksi para kapitalis global. Dengan kata lain mereka mengkonsumsi apa yang telah dikonstruksi kapitalis untuk dikonsumsi. Masyarakat konsumer ini merasa merekalah yang memegang kendali atas barang-barang yang mereka beli dan punyai tetapi sebenarnya seperti yang dikatakan Budrillard barang-barang tersebutlah yang menguasi para konsumen ini.
Kita dibuat bingung dengan munculnya budaya pop (pop culture) pada pertengahan dan abad ke-20 dan menjadi lebih parah pada akhir abad ke-20 dan awal abad ke-21. dimana dengan peran media seperti televisi membuat generasi muda menjadi tergila-gila dengan para penyanyi dan artis-artis terkenal yang sering muncul di televisi. Muncul pada beberapa dasawarsa terakhir apa yang disebut MTV yang menjadi salah satu pengekspor budaya pop. Juga tak lupa film-film yang diproduksi oleh Hollywood.
Budaya pop merupakan salah satu contoh beralihnya logika fungsi suatu komoditi menjadi logika hasrat yang diekploitasi kapitalisme pada diri manusia. Bagaimana kapitalisme membuat dan mengkonstruksi sebuah komoditi baru yaitu budaya pop ini untuk kemudian dikonsumsi oleh masyarakat. Bagaimana sebuah tiket konser seorang artis terkenal bisa mencapai puluhan juta rupiah hanya dengan menyanyi pada sebuah panggung hanya selam satu jam. Delueuze dan Guattari menyatakan masyarakat kapitalisme akhir seperti ini sebagai Skizofrenia.
Masyarkat konsumeristik yang bisa disebut masyarakat kapitalisme akhir ini dibuai dengan citraan dan imagi-imagi yang menurut Umberto Eco imaji-imaji dan ctraan-citraan yang dikonsumsi masyarakat kapitalisme akhir ini adalah sebuah dunia hiperealitas, realitas yang tidak memiliki rujukan pada realitas yang asli. Bahkan realitas itu sendiri menjadi menghilang dan menghasilkan simulacrum-duplikasi dari duplikasi.
Masyarakat kapitalisme akhir yang bertumpu pada asumsi-asumsi modernitas tidak lagi menjadi masyarakat yang rasional dalam memutuskan. Tidak ada lagi pilihan-pilihan rasional dalam dunia yang dikuasai oleh logika hasrat. Yang menjadi tolak ukur masyarakat kapitalisme akhir ini adalah proses konsumsi. Adagium Descartes yang menyatakan Cogito Ergo Sum (aku berpikir maka aku ada) telah berubah menjadi aku mengkonsumsi maka aku ada. Status sosial diukur dari apa yang kita punya (konsumsi). Membeli kopi lebih prestisius di starbuck dari pada di warung kopi. Nonton bioskop lebih ”bergaya” di planet hollywood dari pada di bioskop lokal di daerah pinggiran Jakarta. Berjalan-jalan di Pondok Indah Mall lebih ”wah” dari pada berjalan-jalan di pasar tanah abang. Manusia kapitalisme akhir lebih suka mengkonsumsi tanda dan citraan daripada memakai logika fungsi. Satu kalimat yang bisa menggambarkan keadaan seperti ini; matinya rasionalitas manusia.
Objektivikasi manusia Berujung Ekploitasi ManusiaObjektivikasi merupakan salah satu hasil pemikiran Hegel. Hegel beranggapan adanya dialektika dalam tataran ide yang terus-menerus berdialektika dalam sejarah yang pada akhirnya menemukan titik akhirnya yaitu spirit absolut yang merupakan penjelmaan kebenaran absolut. Hegel dalam dialektikanya melakukan pembedaan antara subjek-objek yang merupakan tradisi dualistik rasionalisme Descartes. Dengan adanya dualisme subjek-objek, maka dunia dilihat sebagai relasi subke-objek. Dimana objek merupakan hasil karya dari subjek. Dalam paradigma hegelian yang juga menjadi dasar modernitas menyiratkan bahwa objektivikasi merupakan sebuah dinamika subjek sebagai pencipta yang selalu mengekpresikan dirinya dalam objek ciptaannya itu.
Beda dengan Hegel, marx melihat proses objektivikasi sarat akan ekploitasi atas pekerja. Karena dalam kapitalisme, relasi antara subjek yang menciptakan dengan objek yang diciptakan terhalang disebabkan subjek yang menciptakan objek-objek itu terikat pula dengan kaum pemilik modal yang memiliki pekerja itu sendiri. Dengan kata lain hasil karya dari pekerja itu yang seharusnya menjadi milik pekerja itu sendiri sekarang tidak lagi dimiliki oleh para pekerja melainkan dimiliki oleh kaum pemilik modal.
Pada masa kita sekarang relasi antara subjek dan objek berada dalam kerangka konsumsi. Dimana masyarakat kapitalisme akhir hanyut dalam proses konsumerisme. Sebenarnya pada masyarakat ini tidak ada lagi pembedaan antara subjek dan objek, bahkan manusia pun menjadi komoditi yang dapat dijadikan objek. Bila dalam terminologi Marx, pemilik tenaga kerja yaitu pekerja telah diobjektivikasi oleh para pemilik modal. Jadi tidak hanya barang yang dihasilkan pekerja yang menjadi objek tetapi pekerja yang membuat komoditi itu pun telah menjadi objek dari para pemilik modal.
Disini terjadi apa yang disebut dehumanisasi manusia. Pada situasi ini manusia tidak lagi diposisikan sebagai subjek melainkan telah dijadikan objek oleh manusia yang lainnya.Setelah terobjektifikasikan, manusia lalu diekploitasi tidak hanya tenaga kerjanya seperti yang dikatakan Marx, tetapi lebih jauh pada masyarakat kapitalisme akhir ini tubuh pun juga diekploitasi. Pengekploitasian tubuh manusia ini tak hanya dalam rangka pemenuhan logika hasrat masyarakat konsumerisme tetapi juga dalam rangka mengekploitasi tanda-tanda dan citran-citraan yang terdapat dalam tubuh manusia itu. Seperti citraan sensualitas dan seksualitas.
Kita melihat bagaimana simbol sensualitas wanita dan simbol maskulinitas pria diekploitasi sedemikian rupa hanya sebagai mendukung proses distribusi suatu komoditi. Dalam iklan, jeans selalu digunakan oleh wanita seksi dan pria seksi. Handphone selalu dipegang oleh wanita yang berpenampilan menarik. Iklan merupakan salah satu saluran ekploitasi tanda-tanda di tubuh manusia.
Kita mengenal sebuah profesi yang disebut sebagai sales promotion girl, dimana sang wanita yang berpenampilan seksi menawarkan produk yang diproduksi perusahaan yang membayarnya. Sales promotion girl merupakan sebuah bentuk ekploitasi citraan-citraan tubuh manusia. Tidak hanya itu, profesi-profesi seperti cover girl, model, peragawati dan banyak profesi-profesi lainnya merupakan hasil konstruksi budaya kapitalisme yang berkolaborasi dengan budaya patriakhis.
Ekploitasi manusia ini pun tidak berhenti pada tataran pekerja, konsumen pun juga tak terhindarkan dari ekploitasi ini. Bila pekerja diekploitasi tenaganya maka konsumen diekploitasi hasratnya sehingga mereka tidak lagi berperilaku rasional dalam proses mengkonsumsi.
Pada saat sekarang ini tidak ada lagi garis batas antara wilayah publik dan wilayah privat. Sekarang yang ada hanyalah wilayah publik. Demi memenuhi logika hasrat manusia, wilayah privat pun bebas untuk dikonsumsi secara publik. Bukan hanya barang-barang komoditi saja yang di objektivikasi, bahkan tubih manusia pun dijadikan komoditi yang dapat dikonsumsi secara massal.
Hebatnya lagi secara tidak sadar manusia dalam zaman kapitalisme akhir ini tidak sadar bahwa dunia mereka adalah dunia hasil rekayasa kapitalis global. Mereka mereka bebas memilih dan menjadi apa saja yang mereka inginkan tetapi kebebasan mereka memilih tidak sepenuhnya bebas karena pilihan-pilihan yang ditawarkan telah diatur sebelumnya.
Ekploitasi yang terjadi atas tubuh manusia ini tidaklah bernama ”ekploitasi” karena atas nama ”kebebasan” hal itu tidak lagi menjadi sebuah bentuk eklpoitasi. Dengan adagium semua orang berhak untuk berekpresi, maka kapitalisme mempunyai kekuatan untuk mengekploitasi secara legal dan juga dengan persetujuan orang yang diekploitasi. Kapitalisme melakukan ”controlling the publik mind” melalui perantara-perantara seperti TV, music, pendidikan dan hegemoni makna kata-kata ”sakti”. Dengan instrumen-instrumen itu maka kapitalisme tanpa kita sadari telah melakukan soft hegemony terhadap diri kita.
Kapitalisme juga menghegemoni makna-makna yang sangat berpengaruh di masyarakat. Merekalah yang punya hak menentukan apa arti kebebasan, demokrasi, hak asasi manusia, terorisme dan segala macam makna yang berlaku di masyarakat. Dengan menghegemoni makna yang ada secara tidak langsung mereka menghegemoni kebenaran (signified) yang terkandung dalam kata-kata ”sakti” tersebut (signifier).
Kapitalisme dan ekploitasi makna Demokrasi
Menurut Noam Chomsky, demokrasi tak lain adalah demokrasi pasar. Fareed zakaria dalam bukunya yang berjudul masa depan kebebasan, demokrasi hanyalah suatu hal yang semua (pseudo democracy) bila tidak diikuti oleh liberalisme. Bisa disimpulkan demokrasi yang benar adalah demokrasi yang mengakomodir kebebasan yang terkonstruksi dalam kerangka pasar (kapitalisme).
Kapitalisme tidak hanya berlaku pada tataran ekonomi an sich tetapi menjalar keseluruh segi kehidupan masyarakat. Sudah pasti dalam bidang politik, kapitalisme sangat kuat mempengaruhi. Demokrasi berfungsi tak lain hanya unstuck memberikan jalan kepada kapitalisme unstuck menguasai suatu wilyah. Demokrasi seolah-olah tidak memiliki makna yang berarti. Semua orang berhak berteriak menegakkan demokrasi tetapi apa itu demokrasi. Kata ”demokrasi” yang merupakan signifier sudah tidak memiliki signified dibaliknya.
Demokrasi juga menjadi alat penyeragaman bagi umat manusia. Tanpa ada kesepakatan terlebih dahulu demokrasi diklaim sebagai sebuah bentuk sempurna dari sebuah sistem pemerintahan. Demokrasi diklaim sebagai nilai yang paling universal di dunia sekarang. Negara-negara kapitalis sekeakan tidak memberi ruang bagi penafsiran alternatif bagi demokrasi itu sendiri. Demokrasi yang berintikan liberalisme haruslah dipaksakan kepada seluruh umat manusia agar tercipta perdamaian. Bahkan seorang woodrow wilson memutuskan membawa AS memasuki PD I karena ingin menyebarkan demokrasi.
Tetapi pada saat yang sama kita dibuat bingung dengan didukungnya pemerintahan-pemerintahan yang tidak demokratis yang uniknya merupakan sekutu Amerika serikat dan negara-negara kapitalis. Apakah sebuah negara yang tidak demokratis dan tidak mendukung kapitalisme global harus dimusnahkan atas nama demokrasi sedangkan negara yang tidak demokratis tetapi memberikan tempat kepada kapitalisme global tidak dimusnahkan, karena bila demokrasi diterapkan maka negara-negara tersebut akan menolak kapitalisme global.
Kita lebih dibuat bingung lagi, disaat sebuah negara menyelenggarakan pemilu yang sangat demokratis malah diembargo hingga rakyat negara tersebut kelaparan. Apakah karena melakukan praktek demokrasi, rakyat di suatu negara harus dihukum. Ini sebuah pembuktian bahwa demokrasi tidak bermakna apa-apa kecuali sebagai alat kapitalisme global untuk menguasai negara-negara di dunia.
Epilog: kapitalisme; sebuah hegemoni (grand narrative) peradaban besar untuk menaklukkan the others.
Di millennium ketiga sekarang ini, kapitalisme tidak memberi ruang bagi paradigma ekonomi alternative untuk hidup. Dengan berbagai macam instrument instutusional supranasional seperti IMF dan World Bank, kapitalisme terus melakukan proliferasi keseluruh penjuru dunia. Dunia terus menciut hingga menjadi Global Village. Dengan adanya global village ini terjadi penyeragaman dunia yang sebenarnya sangat beragam. Narasi-narasi besar dunia dibawah kapitalisme, seperti liberal demokrasi, universal human rights, kebebasab sekarang menguasai dunia dan tidak menyisakan ruang bagi narasi-narasi kecil.Kapitalisme menjadi alat hegemoni bagi peradaban besar untuk menaklukan peradaban-peradaban kecil. Dengan kapitalisme, Negara-negara kapitalis terus menjaga posisi mereka pada titk sentral (core) dalam struktur system dunia dan akan selalu menjaga Negara-negara kecil untuk terus berada dalam zona periphery.Sudah seharusnya peradaban bear (barat) untuk menghargai dan memberi ruang hidup bagi nilai-nilai yang tidak sejalan dengan nilai universalitas barat. Dunia bukanlah hanya sekedar monopoli wacana barat. Setiap peradaban berhak menpersepsikan dunia di mana mereka tinggal. Peradaban di dunia tidaklah seharusnya menjadikan kapitalisme sebagai landasan segala sesuatu. Dunia punya hak untuk memilih paradigma apa yang pas buat mereka.